Bersin
Oleh: Tidak Diketahui
Penterjemah: Cyntia
Mereka berjalan berurut-urutan, berdua-dua, setiap dari sembilan puluh
tiga mahasiswa masuk memenuhi auditorium yang sudah penuh sesak itu.
Masing-masing berpakaian warna merah kecoklatan yang cerah, gaun berkibar
dengan topi tradisionil yang anggun, mereka terlihat hampir sedewasa se
perti yang mereka rasakan. Para bapak-bapak mencoba menelan ludahnya di-
balik senyum yang lebar, dan para ibu secara lepas bebas mengusap air
mata mereka.
Kelas ini tidak akan berdoa diawal upacara ini - bukan oleh karena
mereka yang memutuskan, melainkan karena sebuah keputusan baru-baru ini
yang dikeluarkan oleh pengadilan yang melarangnya. Para guru dan bebe-
rapa siswa cukup berhati-hati tinggal dalam batas rambu-rambu yang diijinkan.
Mereka bergantian memberikan sambutan dan pidato penuh inspirasi
serta tantangan-tantangan, namun tak seorangpun yang menyuarakan tuntunan
Ilahi dan tidak seorangpun yang memohonkan doa2 bagi mereka yang lulus
ini ataupun bagi keluarga mereka. Semua kata-kata sambutan baik namun
kedengarannya serba rutin... sampai saatnya pidato sambutan yang ter-
akhir mendapat sorak sorai tepuk tangan para hadirin yang berdiri. Ada
seorang siswa tunggal dengan bangga berjalan menuju mikropon. Ia ber-
diri dengan diam dan hening untuk sejenak, kemudian dia menyuarakan
pidatonya... sebuah WAHING... bersin yang keras sekali!
Semua siswa langsung berdiri, dan serentak, dalam suatu kesatuan
mereka berkata, "TUHAN BERKATI MU"
Para hadirin meledak dalam gegap tepuk tangan. Kelas yang lulus
ini ternyata telah menemukan sebuah jalan yang unik untuk memohonkan
berkat Allah untuk masa depan mereka....dengan atau tanpa izin peng-
adilan.
Catatan:
Dikalangan Barat ada kebiasaan orang mengucapkan "Semoga
kau sehat" atau "Tuhan berkatimu" pada orang yang bersin...
Reviews:
**** [Mar 15, 2004] by Rawiano
Menunggu itu gak enak, apalagi kalau yang ditunggu itu gak pernah datang.
*** [Mar 15, 2004] by Anggit
Menunggu itu butuh kesabaran, akan kulakukan semua itu demi kudapatkan apa yang kumau. Mungkin ini bagian dari perjuanganku, kuharap kepercayaanku tak salah. Sudah kuyakinkan aku akan harapanku. 9 April kutunggu waktumu... Ddari anggit teruntuk isti.
***** [Mar 15, 2004] by Herddyani
Wah bagus juga tu buat dicontoh.