Ingin Natal Bersama Anaknya
Oleh: Tidak Diketahui
Sumber: Kompas, Minggu, 28 Desember 2003
Kiriman: Itayanti
Hampir setiap malam, seorang pria berusia sekitar 50 tahun dengan berpakaian lusuh dan bertopi hitam selalu berada di sekitar Gedung LippoBank di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Di jalan yang terkenal sebagai salah satu pusat jajanan Jakarta itu, ia menunggu orang-orang yang sedang makan di teras gedung bank tersebut.
Orang-orang yang telah selesai makan itu biasanya meninggalkan sisa-sisa makanan di piring mereka. Setelah mereka pergi, pria tadi mendekati piring-piring itu. Ia mengumpulkan sisa-sisa makanan di dalam piring dan memindahkannya ke selembar koran yang telah dibentuk kerucut. Dari situlah ia makan makanan sisa tadi dengan lahap. Setelah selesai makan, ia pergi menyusuri jalan yang semakin ramai itu untuk kembali ke "rumahnya" di Taman Suropati. Sehari-hari ia memang tidur di bangku taman itu, atau bila hujan datang ia tidur di emperan gedung di bilangan Menteng.
Pria itu bernama Jahja Hari Salamin, seorang tunawisma yang sudah tiga tahun berada di Jakarta. "Wah, Mbak, saya senang sekali diajak berbicara. Jarang ada orang yang mau menyapa saya. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri," ujarnya.
Meskipun ia seorang tunawisma, ia sangat pantang meminta-minta dari orang lain. Ia berprinsip, rezeki selalu diatur oleh Tuhan, dan untuk makan, ia biasa mengumpulkan makanan sisa di daerah Menteng itu.
Ia sengaja datang ke Jakarta bukan untuk mencari nafkah, tetapi untuk mendekatkan diri dengan anak perempuannya semata wayang, Maria, yang bekerja di sebuah department store di sebuah mal di Jakarta Utara. Ia rela menjual semua hartanya di Malang untuk berangkat ke Jakarta.
"Anak saya sudah ditinggal ibunya sejak masih kecil. Sekarang, hanya dia milik saya satu-satunya. Saya tidak bisa berpisah dengannya," ujar Hari berkisah.
Anaknya sendiri tidak tahu kalau sang ayah berada di Jakarta. Hari sengaja tidak mau memberi tahu karena ia tidak ingin merepotkan anaknya. "Meskipun tidak bertemu, tetapi kalau ada di satu kota, rasanya selalu dekat," ujarnya lagi.
"Saya mengaku masih berjualan bubur kacang hijau di Malang. Kalau saya beri tahu, saya takut anak saya malu akan kondisi saya dan pekerjaannya terganggu. Kurang lebih seminggu sekali saya tetap telepon dia," ujarnya.
Ia tidak mau bertemu dengan anaknya karena malu dengan keadaannya yang compang-camping dan lusuh. Selama tiga tahun itu, baru sekali ia bertemu dengan anaknya. "Itu juga dengan meminjam pakaian dan sepatu dari teman," katanya sambil mengambil kantong plastik merah yang merupakan harta satu- satunya.
Dari kantong itu ia mengeluarkan foto anaknya yang dipigura coklat. "Kalau saya kangen, saya selalu pandangi wajahnya melalui foto ini," katanya.
Hari lalu bercerita betapa bangganya akan kepandaian Maria waktu sekolah dulu. Setelah lulus SMA, Maria tidak ingin melanjutkan kuliah karena ingin membantu ayahnya mencari nafkah.
Ketika ditanya mengapa ia tidak bekerja di Jakarta, Hari menjawab bahwa dulu ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, tetapi karena sakit di lambungnya yang amat parah hingga dioperasi secara gratis, ia tidak kuat lagi. "Sebenarnya, saya bisa main gitar, tetapi saya enggak mau ngamen karena harga gitar mahal. Mau berdagang tak punya modal. Sebenarnya kalau hanya menjaga rumah atau kebun saya masih sanggup," katanya.
Dalam sehari, Hari belum tentu mendapatkan uang. "Paling baru dua atau tiga hari ada orang yang ngasih seribu atau dua ribu perak. Tapi, itu saya enggak pernah minta, lho," ujarnya. Sepanjang hari, ia menghabiskan waktunya di Taman Suropati untuk membaca koran yang kadang-kadang dibelinya dari uang yang ada. "Saya lebih baik membaca koran daripada membeli makanan. Kalau makanan, saya bisa makan makanan sisa. Orang-orang sekarang banyak yang tidak menghargai makanan," katanya lagi.
Dari kantong plastik tadi ia mengeluarkan sebuah map dan menunjukkan sebuah dokumen. Ternyata, dokumen itu merupakan surat baptis yang dikeluarkan oleh Gereja Protestan di Indonesia bagian barat yang menerangkan bahwa pada tanggal 20 Maret 1966, Jahja Hari Salamin telah dibaptis.
Meskipun ia seorang Kristen, ia juga tak mau meminta-minta ke gereja-gereja karena ia takut dituduh mengada-ada. "Ke gereja saja saya merasa tidak pantas dengan pakaian seperti ini. Kalau saya meminta- minta ke gereja saya takut ditolak dengan tuduhan bermacam-macam," tuturnya.
"Saya tahu, banyak orang yang berpakaian keren datang ke gereja untuk minta sumbangan dan gereja memberikannya. Tapi untuk yang benar-benar susah seperti saya ini...," ujar Hari tidak melanjutkan kalimatnya.
Atas segala yang ia peroleh hingga saat ini, ia senantiasa selalu bersyukur. Baginya, Yesus adalah penolongnya dari segala cobaan. Syukur yang sangat mendalam ia panjatkan atas keberhasilan anaknya yang sudah bekerja hingga saat ini.
Ia juga berkomentar bahwa Natal merupakan momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Tahun ini, ia ingin sekali mendapatkan pakaian yang layak pakai sehingga ia bisa bertemu dengan anaknya dan bernatalan bersama anaknya. "Selama tiga tahun ini, meskipun saya tidak bernatalan di gereja, tetapi di taman ini saya selalu bernatalan di dalam hati saja," katanya menerawang.
Di tengah meriahnya suasana Natal di mal-mal dan hotel-hotel berbintang, dan ketika orang-orang membutuhkan pohon natal mewah dan hadiah yang mahal untuk merayakan Natal, Hari hanya berharap untuk mendapatkan pakaian yang layak supaya dapat bernatalan bersama anaknya.
Reviews:
***** [Aug 19, 2005] by Aditya Purwanto
Aneh, banyak cerita bagus di site ini, tapi banyak yang membuat pembacanya hanya bisa berkata aja ato merasa ga bersyukur dengan kondisinya T_T
Hello guys, you're the best ^_^
Like the song from joey mc... (I forget how to write it) title is "stay the same".
No matter how worse your life is, it is the best for you. I already felt the same like Lia, but right now i fell so thankfull to God that i have the best family and life i had ^_^ GBU
***** [Mar 25, 2004] by Fenny
Exelent! Cerita yang bikin kita terharu. Moga-moga kita jadi punya kerinduan untuk berbagi berkat ama sodara-sodara kita yang membutuhkan!!
***** [Mar 25, 2004] by Lia
Figur ayah yang BAIK, yang saya sendiri pingin punya ayah seperti dia, karena ayah saya jauh dari sikap bersahaja seperti dia. GOD bless bapak itu...
***** [Mar 09, 2004] by Tella
Membuatkan saya boleh menitiskan air mata.. cerita yang ada perkaitan sedikit dengan jalan cerita hidup saya.. pendek kata cerita ini cukup bagus... May GOD bless u owez...!!!
***** [Mar 05, 2004] by Gracy_la
Tidakkah kita terbeban, begitu banyak sodara-sodara kita yang masih memerlukan bantuan, sedangkan kita masih terlalu sibuk dengen diri sendiri.