Kado Terindah
Oleh: Jessica Nathania
Kiriman: Ishak Surya Adipermata
Jam dinding kamarku menunjukkan pukul sebelas. Suasana di luar kamar sudah sepi. Lampu juga sudah mati semua. Papa baru saja mematikan TV nya dan masuk kamar untuk tidur. Kamar Kezia di sebelah sudah tidak bersuara.
Begitu juga kamar Neil di seberang kamarku, speaker cd player nya yang biasa meneriakkan lagu-lagu pop rock dengan volume maksimal juga sudah beristirahat sejak jam sepuluhan tadi. Aku duduk di kursi meja belajarku, memandang ke luar jendela yang aku buka. Aku masih terjaga dan belum juga mengantuk.
Langit malam ini bersih, dengan bintang yang lumayan banyak. Kuputuskan untuk membuka pintu balkon kamarku dan memandangi bintang-bintang di atas sana.
Aku berdiri dan menengadah ke atas, lalu kuambil teropong bintangku dari lemari dan aku mulai menghitung jumlah bintang yang bisa aku hitung. Satu.., dua.., tiga... Hmm... semuanya ada enam belas. Aku jadi teringat, satu jam lagi aku berumur enam belas tahun.
Bukan lagi seorang anak kecil yang cengeng, tetapi seorang gadis yang kuat, yang menghadapi masalahnya bukan lagi dengan air mata, tapi dengan jalan keluar.
Enam belas tahun yang lalu aku muncul di dunia ini, dan aku tahu ini rencana Tuhan yang terindah dalam hidupku. Dia yang telah memanggil dan memilihku, masuk dalam rencanaNya, dan yang kutahu rencanaNya bukan suatu rancangan kecelakaan, tetapi rancangan damai sejahtera dan kuyakin Dia juga yang memegang masa depanku.
Aku membiarkan diriku berkhayal tentang besok pagi. Aku harap.. begitu aku buka mata besok pagi.. yang ada di hadapanku adalah tumpukan kado dari adik-adik dan orang tuaku beserta dengan kartu ucapan selamat ulang tahun, beberapa sms yang masuk memenuhi inbox-ku untuk memberiku ucapan selamat ulang tahun, atau.. sebuah kecupan sayang dari mama dan papa buatku, atau pesta kejutan yang sudah dipersiapkan teman-teman untukku.
Aku tersenyum sendiri. Hhh.. begitu bahagianya banyak orang yang memperhatikanku.. Terima kasih Tuhan buat kehadiran mereka yang sudah mewarnai hidupku selama ini.
Aku kembali melihat jam dinding kamarku. Lima menit lagi! Aku membereskan teropong bintangku, memasukkannya kembali ke dalam lemari. Aku menegakkan sebuah lilin di atas meja belajarku dan menyalakannya, lalu aku duduk dan mulai menghitung mundur. Tiga.. dua.. satu.., dan jam dindingku menunjukkan jam dua belas tepat dengan jarum panjang yang juga tepat di angka dua belas. Aku mulai menyanyikan lagu Happy Birthday untuk diriku sendiri, lalu meniup lilinnya.
Aku menutup mata dan melipat tanganku untuk berdoa.
“Tuhan.. terimakasih kalau umurku sudah bertambah satu tahun lagi. Terimakasih Tuhan buat kasih setiaMu yang ga pernah habis dalam hidupku selama ini. Terimakasih buat orang tua yang sudah Kau beri untukku, yang sudah menjagaku dengan baik dan dengan penuh kasih sayang, dan yang sudah mengenalkanku kepada seorang Pribadi yang begitu menyayangiku. Tuhan, dengan bertambahnya satu tahun lagi umurku, aku juga ingin supaya aku dapat mencintaiMu lebih lagi, berikan aku kepintaran, kedewasaan, kebijaksanaan, dan kekuatan dalam menghadapi semua masalah yang Kau ijinkan terjadi dalam hidupku. Bentuk aku lebih lagi Tuhan, seperti apa yang Kau ingini. Terimakasih Tuhan, Bapaku yang baik. Di dalam namaMu aku berdoa dan mengucap syukur. Amin.”
Setelah itu aku menutup pintu balkon dan naik ke atas tempat tidurku, menarik selimut dan memejamkan mata dengan senyuman bahagia.
Aku membuka mata, suara Neil dan Kezia yang ribut membangunkanku. Aku terduduk di tempat tidurku.
“Thanks Jesus!” aku membuka mulut dan menyibakkan gorden jendela kamarku.
Sinar matahari yang hangat menyapaku. Juga kubuka balkon kamarku dan kuhirup udara pagi yang segar itu dalam-dalam. Today, is my birthday!, aku berseru dalam hati kepada diriku sendiri.
Kubuka Alkitabku dan kumulai saat teduhku. Tuhan bukakan aku Roma pasal 8. Dan ayat 28 membuatku tertarik:
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
“Ya, aku tahu Tuhan sudah memanggilku, Dia sudah memilihku, untuk menjadi serupa sepertiNya. Aku harus menjawab panggilanNya dan aku juga mau seperti Yesus melayani orang di sekitarnya dengan kasih, seperti Yesus yang menjadi terang untuk sekitarnya, juga sama seperti Yesus membagikan kasihNya kepada semua orang yang Ia temui. Ayo, Tuhan bentuk aku lebih lagi, ajar aku untuk menjawab panggilanMu, menjadi berkat dan terang buat sekitarku, dan ajar aku untuk membagi-bagikan kasihMu pada setiap orang yang aku temui. Terimakasih buat satu pasal yang sudah Kau berikan buatku, yang sudah menegurku, menguatkanku, dan membangkitkan semangatku. Ajarkan aku untuk menjadi pelaku firmanMu. Thanks Jesus, amin…”
“Grace..” Mama mengetuk pintu kamarku.
“Ya, Ma!” jawabku sambil turun dari tempat tidur.
Kubayangkan Mama adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku membuka pintu kamar.
“Jam enam lebih lima..” Mama mengingatkanku untuk segera bersiap-siap pergi ke sekolah.
“Siap, bos!” kataku sambil memberi hormat. Mama hanya tertawa lalu membalikkan badannya.
“Ma!”panggilku spontan.
Mama berbalik lagi.
“Ada apa?”
Aneh.. apa Mama pura-pura lupa hari ulang tahunku?
“Ng.. ngga.” kataku sambil tersenyum dengan terpaksa.
Mama melanjutkan pekerjaannya membangunkan anak-anaknya satu per satu, ini kerjaannya tiap pagi. Aku kembali masuk kamar untuk bersiap-siap mandi. Aku menghibur diriku sendiri, bahwa mereka hanya pura-pura lupa hari ulang tahunku. Dan kuanggap itu normal, biasa, taktik kuno untuk memberi kejutan pada saat hari ulang tahun.
Aku melihat kalender sekali lagi. Bener kok, sekarang hari Selasa, tgl 28 Oktober. Tak mungkin salah cetak kan? Ya, mereka cuma pura-pura lupa kok. Aku juga membuka handphone-ku. Cuma ada satu sms, dari Michelle, salah satu sahabat terbaikku yang mengucapkan happy birthday, jam 00.01. Dan ini cukup menghibur hatiku.
Ternyata dia ingat ulang tahunku! Aku tersenyum senang. Begitu aku meletakkan tas sekolahku di atas meja, Michelle-lah orang pertama yang menghampiriku dan memberiku selamat ulang tahun sekali lagi.
Beserta dengan kotak kecil yang dibungkus rapi di tangan kanannya.
“Hope u’ll like it!” Michelle menyerahkan kotak kecil itu padaku.
“Thanks yah!” aku menerima hadiah kecil itu dengan senyum senang.
Juga dengan Irene, sahabatku yang lain, yang memberiku selamat ulang tahun dan memberikanku beberapa pembatas alkitab.
“Sori ya, aku baru tau kalo hari ulang tahunmu hari ini itu kemarin sore. Jadi aku ngga siapin bener-bener.” katanya dengan muka menyesal.
Tapi aku menepuk pundaknya. “Kamu inget aja aku udah bener-bener seneng.”
Ya, hanya dua orang itu yang inget ulang tahunku. Entah kenapa sahabatku yang lain tidak memberiku selamat ulang tahun, padahal mereka tau kalau hari ini aku ulang tahun. Ini membuatku kecewa dan sedih. Mengapa mereka berbuat seperti ini.
Padahal aku selalu ingat semua tanggal ulang tahun mereka, bahkan memberinya kado. Tapi, bagian aku yang ulang tahun.. Juga Mama, Papa, Neil, dan Kezia. Tak seorang pun yang menyinggung hari ulang tahunku. Mungkinkah mereka membuat pesta kejutan untukku sepulang sekolah nanti? Tapi.. mereka tidak pernah berbuat seperti itu.
Mama dan Papa selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada anak-anaknya yang ulang tahun. Kenapa mereka lupa ulang tahunku?
Seharian itu aku menjadi seorang pendiam di sekolah. Tubuhku memang berada di kelas, tapi pikiranku melayang-layang entah sudah sampai di mana.
Tak ada sedikit pun konsentrasi atau niat untuk belajar. Tiba-tiba kumat lagi sifat lamaku, seorang Grace yang pemarah. Rasanya ingin segera pulang dan mengunci diri di kamar.
Aku berjalan tertunduk sendiri di sepanjang koridor sekolah setelah bel pulang berbunyi. Rasa sedih, dan merasa dikecewakan meliputi diriku. Hatiku sesak dan nafasku tidak teratur. Masih kuingat tadi, bagaimana pandangan aneh dari teman-teman terhadapku.
Apakah itu kado ulang tahun mereka untukku? Berulang kali aku menabahkan dan menguatkan diriku sendiri sewaktu mataku mulai berkaca-kaca. Rasanya sudah tidak ada niat lagi untuk menjalani hari ini.
Begitu aku sampai di rumah, tanpa berkata apa pun aku langsung masuk ke kamar. Aku tertegun, ke mana hilangnya rasa peduli dan perhatian keluarga dan teman-teman kepadaku? Kujatuhkan diriku ke atas tempat tidur dan menghela nafas panjang, memejamkan mataku dan aku hanya bisa menelan ludah. Aku tak bicara banyak saat makan malam.
Sejujurnya tak ada sedikit pun nafsu makanku. Pandanganku pun kosong. Sedih.. mereka benar-benar lupa!
Setelah makan malam aku tidak tahan lagi. Aku keluar kamar dan pamit pada Mama untuk pergi ke rumah Michelle yang kebetulan satu kompleks denganku. Aku tidak menunggu ijin dari Mama, langsung kubuka pintu pagar dan menutupnya dengan kasar.
Aku berjalan menjauhi rumah. Sudah tidak kupedulikan lagi suara Mama yang berteriak-teriak di telingaku untuk kembali. Air mataku sudah meleleh, dan aku tidak menahannya lagi. Mereka semua jahat! Tak ada satu pun dari keluargaku yang mengingat ulang tahunku.
Rasanya tidak mungkin! Mama yang selama ini baik padaku, Papa yang selalu memperhatikanku, Neil, adik cowo kesayanganku, dan juga Kezia, adik ceweku yang kujadikan tempat curhat di rumah.. Mereka semua berubah dalam satu hari.
Tuhan.. aku kecewa, Tuhan. Sebagai anak, aku punya hak kan, untuk diperhatiin? Lalu kenapa mereka melupakan momen yang aku anggap penting ini? Tuhan, apakah Kau anggap aku kekanak-kanakan? Apa Kau anggap aku cengeng? Tapi, ini kenyataannya, aku merasa kecewa, Tuhan..
Rumah Michelle sudah terlewat beberapa blok dari tempatku berjalan sekarang. Aku tak tahu harus ke mana, yang penting aku tidak berada di rumah, karena itu membuatku ingin selalu menangis. Aku baru sadar kalau aku sudah ada di jalan raya yang besar. Di depanku adalah perempatan jalan dengan anak-anak jalanan yang sedang berkumpul di bawah pohon besar yang diterangi lampu jalan. Sebagian mereka sedang makan, sebagian lagi memegang perutnya kelaparan, ada yang sedang main gitar, dan sisanya turun ke jalan untuk mencari uang lagi.
Kebanyakan dari mereka masih kecil, mungkin umurnya sekitar delapan sampai sepuluh tahun. Entah kenapa aku ingin mendekati mereka. Lalu kuhapus air mataku lalu duduk di sebuah kursi panjang yang hanya diduduki seorang anak kecil. Dia memegang perutnya dan wajahnya menunjukkan kesakitannya.
“Kamu kenapa?” akhirnya aku memberanikan diriku untuk bertanya.
Anak kecil itu kaget, dan memandang aku dengan heran.
“Kamu belum makan ya?” tanyaku lagi. Dia hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tunggu sini ya, kakak beli makanan dulu di seberang.” kataku sambil bangkit berdiri untuk membeli sebuah nasi bungkus di warung makan di seberang sana. Aku segera kembali dan mendekati anak kecil itu, yang masih menatapku dengan heran.
“Ayo makan. Kamu pasti kelaperan.” aku menyodorkan nasi bungkus itu padanya.
Dia hanya diam tidak bergerak memegangi perutnya.
“Jangan takut, kakak bukan orang jahat. Ini ngga ada racunnya.” kataku lagi.
Dia memandang nasi bungkus itu, tapi belum ada tindakan untuk mengambil nasi bungkus itu dari tanganku.
“Ayo, ngga apa-apa kok. Kasian tuh perutmu udah bunyi minta diisi. Kalo kamu ngga makan, sakit perutmu pasti tambah parah..” bujukku lagi.
Akhirnya dengan takut-takut dia mengambil nasi bungkus itu dari tanganku. Dan mulai membukanya, lalu dimakannya dengan lahap.
“Kamu pasti udah beberapa hari ngga makan, ya?” tanyaku lagi.
Dia mengangguk lemah, jawaban yang sangat pendek.
“O, iya, nama kakak Grace. Namamu siapa?” Dia mengangkat kepalanya.
“Derry.” jawabnya lemah.
“Ngapain kamu di sini?”
“Cari uang buat makan.”
“Rumahmu di dekat sini?”
Dia menunjuk sebuah lubang kecil di bawah jembatan.
“Sama orang tuamu?”
“Derry ngga punya orang tua.” jawabnya datar, tanpa ekspresi, sambil tetap melanjutkan makannya.
Saat itu jantungku serasa berhenti memompa. Ya, Tuhan, ternyata masih ada anak seumur Derry yang tak punya tempat tinggal, tanpa orang tua yang menyayanginya. Aku kembali mengingat kedua orang tua yang sangat menyayangiku, saudara-saudara yang membuat aku gembira, dan rumah yang hangat untuk aku tinggali.
Derry sudah selesai makan. Wajahnya sekarang tidak sepucat dan selemah tadi.
“Boleh kakak liat rumahmu?” tanyaku iba.
“Ngga ada yang bisa diliat. Paling cuma tikus dan kecoa. Kakak pasti takut.” jawabnya polos. Jujur, aku memang paling takut sama tikus dan kecoa.
“Kamu jualan koran ya?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Ya, tinggal empat lagi. Kayaknya hari ini ngga abis lagi. Mana ada orang yang beli koran jam segini?” tanyanya lagi.
“Kalau begitu kakak beli empat-empatnya.” aku mengeluarkan uang lima ribuan dan menyodorkannya.
“Kakak, kenapa kakak baik sama saya?” tanyanya polos. Aku kaget, diam sebentar.
“Ada yang jauh lebih baik dari Kakak, dan Dia juga sayang sama kamu.” jawabku.
“Siapa, Kak?” tanyanya penasaran.
“Kamu kenal sama Yesus?” Dia menggeleng lagi. Dan kupikir ini kesempatanku untuk menceritakannya tentang Yesus yang aku kenal.
“Wah, Dia baik banget! Kenapa Dia mau mati buat Derry?” tanyanya lagi.
“Karena Yesus sayang sama Derry.”jawabku lagi.
“Yesus itu tinggalnya di mana? Derry pengen ketemu.” pintanya. Aku tersenyum lagi.
“Kalo Derry pengen kenal sama Yesus, Derry cukup ngomong kalo Derry pengen ketemu sama Yesus.
Ntar Yesus yang samperin Derry.”jawabku lagi. Dia menganggukkan kepalanya.
“Yesus, Yesus ada di mana sih? Derry pengen ketemu. Yesus ke sini dong samperin Derry, Derry pengen ngobrol sama Yesus.” katanya.
Tak terasa air mataku meleleh lagi. Kali ini bukan air mata yang menyesakkan hatiku karena rasa kekecewaan dan kesedihan, tapi rasa terharu dan bahagia. Papa, Mama dan saudara-saudaranya boleh melupakan hari ulang tahunnku, tapi aku tahu kalau Yesus tak pernah lupa ulang tahunku. Dan ini, hadiah terindah yang Tuhan berikan untukku.
Ada satu rasa damai yang mengalir di hatiku, karena aku merayakan ulang tahunku bersama seorang anak jalanan yang kesepian dan kelaparan, yang merindukan kasih Tuhan menjamah hidupnya.
Aku kembali teringat renungan pagi tadi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Ya, Tuhan, kini aku benar-benar mengerti. Thanks, Lord!
Reviews:
***** [Feb 19, 2008] by Ray
Yap,Hati-Nya telah menyentuh hatimu ... selamat ulang tahun ...!!!
**** [Dec 20, 2004] by Qq
Gw bangget....