Alkitab di Dalam Hati Mereka
Oleh: Grace W. McGavran
Kiriman: Azallea Lesmana
Sumber: Stories of the Book of Books
Polandia, abad ke-20. Matahari sudah mulai terbenam pada saat seorang pria
dengan susah payah berjalan kaki lewat lorong yang becek menuju Desa Gersang.
Wah, jelek sekali jalan-jalan di daerah Polandia Timur ini, katanya pada
dirinya sendiri. Kalau aku tidak bertekad untuk membawa Alkitab kepada
orang-orang yang belum mempunyainya, pasti aku tidak mau bepergian ke
daerah yang terpencil seperti ini!
Memang pria itu sudah biasa berjalan di jalan-jalan desa yang jelek.
Umumnya ia tidak mengomel. Tetapi sudah bekerja keras sepanjang hari,
kadang-kadang ia merasa sedikit jengkel.
Tenaganya hampir terkuras habis ketika lampu-lampu nampak berkedip-kedip
pada jendela-jendela di desa Gersang. Pada saat pria itu berjalan semakin
dekat, anjing-anjing menggonggongi dia. Tetapi pria itu sudah biasa
menghadapi anjing-anjing penjaga; seandainya tidak, pasti sudah
berkali-kali ia diserang.
Ia mengetuk pintu rumah pertama yang didatanginya. Seorang pria muncul
dipintu; tiga orang anak mengintip dari belakang punggungnya.
"Selamat sore," sapa tuan rumah itu. "Silakan masuk, sudah mulai dingin
diluar."
"Selamat sore," Tetapi pria yang mengetuk pintu itu tidak segera masuk.
"Pak, aku mencari tempat menginap. Aku bersedia membayar, juga untuk
makananku. Dan aku pun menjual sebuah buku yang berisi cerita-cerita yang
paling indah di seluruh dunia."
Dengan tenang ia menunggu keputusan tuan rumah; ia tidak mau memaksa orang
itu menerimanya. Tetapi biasanya, begitu orang memandang wajahnya, saat itu
juga mereka merasa bahwa ia seorang yang dapat dipercaya.
"Bagaimana, Marya?" tanya tuan rumah itu kepada istrinya.
Istrinya melangkah maju dan memperhatikan wajah pria yang masih berdiri di
luar itu. "Nanti malam pasti dingin sekali," katanya. "Kami punya cukup
makanan di sini dan cukup tempat tidur juga." Lalu ia kembali ke tungku
perapian agar dapat mengurus masakannya.
Maka pintu itu dibukakan lebih lebar. "Silakan masuk!" kata tuan rumah.
"Kenalkan, namaku Antoni Kowalski."
"Dan aku, Karl Olsen, penjual Alkitab," jawab tamu itu seraya berjabat
tangan. "Di samping menjual, aku pun suka menyampaikan cerita di tempat aku
menginap."
Ketiga anak itu berdiri di sekeliling Karl Olsen pada saat ia duduk di
dekat tungku perapian. Si Marya Kecil adalah anak sulung; namanya sama
dengan nama ibunya. Ia tersenyum tersipu-sipu. "Cerita, Pak?" bujuknya.
Ayahnya tertawa. "Si Marya tidak puas-puasnya mendengar cerita. Biarkan
tamu kita memanaskan tangannya dulu, Nak!"
Tidak lama kemudian Karl Olsen sudah merasa hangat dan nyaman. Maka
dibukanya bungkusannya dan dikeluarkannya sebuah Alkitab. "Nah, ini dia,
buku yang paling berharga di seluruh dunia. Kalian mau aku bacakan sebuah
cerita, ya? Bagaimana kalau cerita ini, yang pernah dibawakan oleh Tuhan
Yesus sendiri?"
Karl membuka Alkitabnya pada perumpamaan orang Samaria yang murah hati.
"Kalian bagaikan orang Samaria terhadap diriku," katanya. "Dengan murah
hati kalian sudah menerima aku, sehingga aku tidak kedinginan, dan aku
selamat dari bahaya binatang buas yang mengintai dalam kegelapan malam."
Tibalah waktu makan malam. Karl makan dengan lahapnya. Makanan itu sangat
sederhana, tetapi disuguhkan dalam keadaan panas dan diberi bumbu menurut
seleranya.
Sesudah makan, Karl Olsen mulai bercerita lagi. Pak Antoni dan Ibu Marya
duduk sambil mendengarkan, bersama dengan si Marya Kecil dan si Yan dan si
Zosia. Yang dibacakan ialah cerita-cerita tentang Yusuf, tentang Daud,
tentang Raja Salomo yang membangun Bait Allah yang indah, tentang Nabi
Daniel yang dijebloskan ke dalam gua singa.
Sebelum ia menyampaikan tiap cerita baru, Karl membuka Alkitab pada
pasalnya yang tepat. Sambil bercerita ia pun menyisipkan di sana sini
dengan susunan kata persis seperti yang tertera di halaman Alkitab.
Si Marya Kecil menarik napas panjang pada saat Karl Olsen menutup Alkitab.
"Papa, beli buku itu, ya? Supaya setiap malam Papa dapat membacakan
isinya," bujuknya. "Papa satu-satunya orang di desa Gersang yang dapat
membaca," ia menjelaskan dengan bangga kepada tamu itu.
Ayahnya mengerutkan dahinya. "Kita ini orang miskin, Nak. Tidak mampu
membeli buku," katanya.
Suara Karl Olsen lirih pada saat ia mengatakan, "Mereka yang tidak
mempunyai buku ini memang miskin. Tetapi bagi mereka yang mempunyainya,
buku ini lebih berharga daripada banyak harta."
"Papa! Papa! Beli, ya, Papa!" si Marya terus membujuk.
Akhirnya Antoni Kowalski membeli sebuah Alkitab, meski untuk orang seperti
dia harganya terhitung cukup mahal. Ia meletakkan buku itu di tempat yang
terhormat di dalam rumahnya.
Selama dua hari Karl Olsen tetap menginap pada keluarga Kowakski. Ia
berkenalan dengan penduduk lain di desa itu. Tetapi tidak ada seorang pun,
di antara mereka yang mau membeli Alkitab. Kitab-kitab Perjanjian Baru,
bahkan Kitab-Kitab Injil yang kecil-kecil tidak ada satu pun yang laku.
Karl kecewa. Tadinya ia berbesar hati karena pada malam yang pertama itu ia
sudah menemui sebuah keluarga yang rela membeli Alkitab lengkap. Harapannya
semula ialah, pasti ada juga orang-orang lain di desa Gersang yang mau membeli.
Pada hari yang ketiga, Karl Olsen berangkat menuju desa-desa lain. Sambil
berjalan kaki melewati lorong yang becek, ia terus berpikir, "Ah! Biarlah
cuma sebuah Alkitab saja yang laku di desa Gersang. Tadinya tidak ada
firman Allah sama sekali di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi?"
Kemudian datanglah musim salju di Polandia Timur. Matahari terbenam agak
awal; kawanan serigala melolong di dalam kegelapan malam. Semua orang harus
tetap tinggal di rumah.
Pada malam-malam seperti itu Antoni Kowalski biasa membuka Alkitabnya serta
membacakan cerita-cerita yang sudah diberi tanda oleh Karl Olsen. Ia pun
membacakan ajaran-ajaran Tuhan Yesus, menurut daftar penunjuk ayat yang
ditinggalkan oleh penjual Alkitab itu.
Selama saat-saat pembacaan itu, Ibu Marya dengan si Marya Kecil serta Yan
dan Zosia suka duduk mendengarkan. Kemudian mereka memperbincangkan apa
yang sudah mereka dengar.
Kadang-kadang ada juga tetangga yang turut mendengarkan. Seraya mengambil
Alkitabnya, Pak Antoni suka mengatakan: "Coba dengarkan apa yang sudah
kutemukan di dalam buku ini. Dengarkan baik-baik, dan berilah tanggapan."
Lalu ia akan membacakan dengan suara keras, sedangkan tetangga-tetangganya
duduk termenung. Kemudian mereka memberi tanggapan dan memperbincangkan
arti ayat-ayat tadi. Percakapan itu selalu berkisar pada hal-hal yang patut
mereka terapkan dalam hidup mereka.
"Mengapa aku harus mengampuni musuhku?" tanya seorang tetangga. "Apakah
buku ini bermaksud, aku harus membantu seseorang memotong kayu, padahal ia
sudah mencuri sebagian dari panen gandumku? Wah, tidak masuk akal!"
Pak Antoni menggelengkan kepalanya. "Siapa tahu? Memang ini ajaran yang
aneh." Lalu ia pun membuka sebuah ayat yang lain lagi. "Nah, ini: 'Segala
sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah
demikian juga kepada mereka.'"
Si Marya Kecil dan Yan ikut mendengarkan ayah mereka bertukar pikiran
dengan tetangga-tetangganya. Mereka saling berpandangan. Memang mereka
tidak selalu memperlakukan teman-teman sepermainan mereka seperti mereka
kehendaki supaya teman-teman itu memperlakukan mereka!
Sulit mengatakan secara persis, kapan dan bagaimana perubahan ajaib itu
mulai terjadi. "Seumpama ragi yang diadukan ke dalam tepung sampai khamir
seluruhnya", demikian kata-kata Tuhan Yesus tentang firman Allah yang
berkerja dengan tidak kentara dalam hati manusia.
Demikianlah halnya di desa Gersang. Ajaran-ajaran Alkitab mulai mengubah
cara hidup Antoni Kowalski serta keluarganya dan tetangga-tetangganya. Desa
Gersang mulai bersemi secara rohani, dengan pikiran dan perbuatan yang
bersifat murah hati.
Pada suatu hari Pak Antoni dan Ibu Marya mengaku percaya kepada Tuhan Yesus
dengan terang-terangan. Tak ketinggalan juga si Marya Kecil dan Yan. Zosia,
si bungsu, masih terlalu kecil untuk menjadi anggota gereja, namun ia pun
mengasihi Tuhan Yesus sebagai temannya yang terbaik.
Lambat laun orang-orang lain di desa itu juga memihak Tuhan Yesus dan
menggabungkan diri dengan umat Kristen. Pada suatu hari Pak Antoni dan Ibu
Marya mulai menghitung: "Seratus sembilan puluh delapan, ... seratus
sembilan puluh sembilan, ... dua ratus. Sudah ada dua ratus orang Kristen!"
kata mereka. "Alangkah baiknya jika Karl Olsen dapat diberitahu, betapa
besarnya perubahan di desa ini sebagai hal dari Alkitab yang pernah dijualnya!"
Nah, justru fakta itu yang mulai mencemaskan hati kedua ratus orang Kristen
baru di desa Gersang: Alkitab yang mereka miliki itu hanya ada satu.
Mengapa kita juga tidak membelinya waktu Karl Olsen ada di sini dulu?" kata
mereka dengan wajah sedih. "Bagaimana kalau Alkitab itu dicuri orang?
Bagaimana kalau rumahmu kebakaran, Antoni?"
"Aku sudah tahu sebagian dari Alkitab di luar kepala," kata si Marya Kecil.
"Aku sudah hafal cerita tentang Tuhan Yesus bersama kanak-kanak itu, dan
juga Mazmur pasal 100."
"Dan aku pun sudah tahu di luar kepala cerita orang Samaria yang murah
hati," kata si Yan dengan bangga. "Aku dapat menghafalkan seluruh cerita
itu, tanpa kekeliruan sedikit pun."
Ibu Marya tidak mau ketinggalan. "Hatiku sarat dengan ayat-ayat yang pendek
yang telah kauhafal," katanya. "Tetapi satu pasal semuanya? Wah, aku belum
sanggup!"
Perkataan ibu Marya itu menimbulkan gagasan baru. "Kita harus menghafal
seluruh Alkitab!" demikianlah keputusan kedua ratus orang Kriten itu. "Tiap
bagian yang indah, tiap bagian yang penting, harus dapat diucapkan di luar
kepala."
Maka mereka membuat rencana bersama-sama. Mula-mula mereka mendaftarkan
semua ayat dan pasal kesayangan mereka masing-masing, serta ajaran-ajaran
Alkitab yang mereka anggap paling indah dan paling penting. Lalu setiap
orang diberi tugas hafalan. Anak-anak kecil menghafal ayat-ayat pendek
saja. Anak-anak yang lebih besar ditugasi menghafal cerita dan perumpamaan
serta mazmur yang tidak terlalu sulit untuk diingat. Orang-orang dewasa
ditunjuk untuk menghafal bagian-bagian Alkitab yang paling rumit. Dengan
rajin dan tekun mereka mulai menunaikan tugas mereka masing-masing.
Kadang-kadang mereka berkumpul di rumah keluarga Kowalski. Seseorang akan
mulai mengucapkan apa yang sudah dihafalkannya, misalnya dari Kitab Injil
Lukas, pasal yang pertama. Orang tadi akan terus menghafal sejauh
bagiannya. Lalu orang yang berikutnya akan berdiri dan meneruskan tugas
hafalannya. Pak Antoni memegang Alkitab di tangannya, agar ia dapat
memperhatikan tiap kata yang diucapkan itu persis dengan yang tertulis di
dalam firman Tuhan.
Setiap malam hari selama musim salju itu, tidak lagi terasa waktunya lewat
dengan amat panjang. Setiap orang Kristen di desa Gersang memanfaatkan
waktunya dengan menghafalkan Alkitab. Banyak sekali bagian firman Allah
yang sudah dapat diucapkan di luar kepala setelah musim salju itu lewat!
Selama musim semi dan musim panas dan musim rontok, mereka semua sibuk
mengusahakan gandum dan memotong kayu dan mengerjakan tugas-tugas yang
lain. Tetapi setiap musim salju selama tahun-tahun yang berikutnya, mereka
terus menambah perbendaharaan ayat dan pasal hafalan mereka.
Matahari sudah terbenam pada saat Karl Olsen dengan susah payah berjalan
kaki lewat lorong yang becek menuju desa Gersang lagi. Dulu aku pernah
mampir di desa yang terpecil ini, demikianlah pikirnya. Waktu itu cuma
sebuah Alkitab saja yang laku. Aku menjualnya kepada tuan rumah di sini ...
eh, siapa namanya?
Tenaganya hampir terkuras habis ketika lampu-lampu nampak berkedip-kedip
pada jendela-jendela di desa Gersang. Ia mengetuk pintu rumah pertama yang
di datanginya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah keluarga yang dulu itu
masih tinggal di situ, dan apakah ketiga anak mereka masih sehat-sehat saja.
Seorang gadis remaja membukakan pintu. Ia tertegun sejenak, lalu berlari ke
dalam sambil memanggil ibunya, "Mama! Mama! Pak Karl Olsen datang kembali!
Pak Karl Olsen!"
Seluruh keluarga Kowalski keluar dan menyambut tamu mereka dengan penuh
sukacita: Pak Antoni, Ibu Marya, Yan, Zosia, dan "si Marya Kecil", yang
sekarang lebih tinggi daripada ibunya. Kabar kedatangan Karl Olsen itu
dengan cepat-cepat disampaikan ke rumah-rumah tetangga, dan mereka pun
menyambut dia dengan girang.
Karl haren sekali. Mengapa mereka semua menyongsong dia dengan seramah itu?
Mengapa mereka masih mengingat namanya selama bertahun-tahun itu?
Sedikit demi sedikit ia mendengar ceritanya. Pak Antoni mengeluarkan
Alkitabnya, yang sudah hampir usang karena sudah terlalu sering
dibuka-buka. Ibu Marya bercerita tentang dua ratus penduduk desa Gersang
yang sudah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Teman dan tetangga mereka sering
memotong percakapannya dengan berita-berita yang lain, ... tetapi tidak
seorang pun yang bercerita tentang tugas hafalan mereka. Rupanya mereka
merasa itu urusan mereka sendiri, yang mungkin tidak begitu menarik untuk
diceritakan kepada orang lain.
Keesokan harinya, dengan senang hati penduduk desa Gersang berkumpul untuk
berbakti bersama-sama dengan Karl Olsen. Dalam kebaktian itu, Karl
bertanya: Adakah seseorang di sini yang dapat mengucapkan ayat
kesayangannya?" Semua orang terdiam. Lalu Antoni Kowalski bertanya, "Ayat
kesayangannya, Pak? Ataukah pasal kesayangannya?"
Karl Olsen kaget. "Pasal! Adakah di sini seseorang yang sudah menghafal
keseluruhan dari satu pasal di dalam Alkitab?"
Lalu mereka bercerita kepadanya tentang kecemasan mereka dulu:
Jangan-jangan Alkitab satu-satunya milik mereka itu hilang! Mereka
menjelaskan bagaimana mereka membagi-bagi tugas hafalan. "Hampir seluruh
Alkitab itu telah kami hafalkan," kata mereka dengan bangga. "Dan kami
sedang berusaha menghafalkan sisanya."
Yan adalah orang pertama yang berdiri dan mulai mengucapkan ayat-ayat di
luar kepala. Lalu Zosia, dan Marya, dan semua anak yang lain, ayat demi
ayat, pasal demi pasal. Kaum dewasa pun mengucapkan beberapa ayat dan pasal
kesayangan mereka.
Seminggu lamanya Karl Olsen menetap bersama-sama dengan orang-orang Kristen
di desa Gersang. Desa itu jauh sekali dari tempat tinggal orang-orang
Kristen yang lain; banyak sekali pertanyaan mereka tentang saudara-saudara
seiman mereka yang belum pernah mereka lihat! Dan mereka pun membeli
Alkitab, Kitab Perjanjian Baru, dan Kitab-Kitab Injil sampai persediaan
yang dibawa Karl Olsen itu habis semuanya.
"Kami sudah mempunyai Alkitab di dalam hati kami," kata mereka. "Akan
tetapi kami masing-masing hanya mempunyai sebagian saja. Padahal kami
masing-masing memerlukan firman Allah yang lengkap."
Semalam sebelum Karl Olsen hendak berangkat lagi dari desa Gersang, ia
berbaring di tempat tidurnya. Demikianlah renungan hatinya: Sungguh firman
Allah bekerja di dalam hati orang-orang di sini. Dari hanya satu Alkitab
saja, ... lihatlah hasilnya!
Reviews:
***** [Nov 05, 2007] by Charity
Kalo tidak ada Mr.Karl Olsen apakah org2 desa Gersang akan pernah mengenal
Kristus yg diceritakan Alkitab? Be another Karl Olsen coz thre lots of
people who never knows Jesus
***** [Agt 14, 2006] by Sapto Dwi Tresnorumekso
"Bukan kebetulan" saya membaca cerita dan menemukan website ini !
Semoga yang lain merasakan yg saya rasakan saat ini. GBU ALL
**** [Jul 20, 2006] by Eka
Alkitab adalah sumber kekuatan bagi setiap org yg percaya karna
Firman-firman yg di tulis dalah Firman yg hidup.saya mengucapkan terima
kasih kepada Mr.Karl Olsen yg membawa berita keselamatan bg semua org yg
percaya Tuhan memberkati.
***** [Jul 03, 2006] by Luddy
It's great story!!akan lebih baik jika setiap orang yg bc cerita ini juga
mulai BANGKIT & BERGERAK menjadi SAKSI2 KRISTUS kpd sesamanya...