Barter
Oleh: Melanie Schurr
Kiriman: Lesmana, Azallea
Sumber: Daily Wisdom, 11 Okt 2003
Saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang baik di Internet yang,
melalui sejumlah pertukaran email, kemudian menjadi teman. Ketika kami
mengetahui bahwa kami berdua memiliki minat dan ketertarikan dalam hal-hal
yang sama, suatu hari wanita ini menawarkan suatu barang yang dia tahu saya
dapat nikmati. Anda harus tahu, barang itu tidak berasal dari toko, tetapi
dari rumahnya. Saya sangat tersentuh oleh kebaikan dan kemurahan hati
wanita ini, dan saya mengembalikan kebaikannya dengan mengirimkan sesuatu
dari dapur saya; sejumlah sampel teh herbal yang saya pikir dia sukai. Kami
masih saling bertukar email dan kemudian kami mengetahui kami sama-sama
mendengarkan CD dan kaset-kaset motivasional. Wanita ini memiliki beberapa
judul yang tidak saya miliki dan begitu juga sebaliknya, jadi kami dapat
saling bertukar. Saya dapat mendengarkan kaset-kasetnya, dan mengirimkannya
kembali setelah saya selesai mendengarkan, dan dia juga melakukan hal yang
sama.
Akhir-akhir ini, ketika saya sedang memikirkan hubungan kami yang unik
dan persahabatan jarak jauh yang telah terbina, pikiran saya melayang ke
masa dimana orang masih saling bertukar barang, barter, yang dulu sangat
umum, bahkan diperlukan. Daripada masing-masing anggota keluarga pergi dan
membeli barang-barang di toko eceran, mereka saling menukarkan hasil cocok
tanam mereka, sekeranjang apel untuk sekeranjang telur, atau 5 ayam petelur
untuk seekor sapi perah.
Sementara saya merasa bahagia untuk hidup di jaman sekarang dengan
sejumlah tunjangan kesehatan dan lain-lainnya, saya tidak dapat berhenti
berpikir apakah masyarakat kita sekarang ini telah kehilangan sesuatu yang
sangat penting, yaitu tidak membutuhkan satu sama lain. Saya tidak pernah
memikirkan topik ini sampai saya dapat dengan sepenuhnya menikmati
pengalaman berbagi dan bertukar sesuatu yang bukan uang. Tentu saja, kita
menerima dan memberikan hadiah-hadiah pada hari ulang tahun atau hari raya
lainnya, tetapi seperti yang saya katakan, barter murni tidak pernah
dianggap sebagai hadiah, tetapi merupakan suatu kebutuhan, atau gaya hidup
yang paling minim.
Bayangkan sejenak, bagaimana hidup Anda sekarang jika tetangga-tetangga
di lingkungan rumah Anda mulai "keluar" dan mengisi hati mereka dengan
kemurah-hatian. Hati dan hidup kita tidak akan terasingkan; hanya
mengandalkan diri kita sendiri, tetapi kita dapat belajar untuk meminta
pertolongan, dan memberikan bantuan kepada orang lain ketika mereka pun
membutuhkan. Ingin menggali kebun tetapi tidak punya sekop, dan tidak mampu
membelinya? Mengapa tidak mencoba meminjam sekop kepada tetangga hari ini?
Dan kembalikan pertolongannya dengan memberikan hasil kebun Anda setelah
masa panen.
Saya menjamin bahwa kehidupan saya sekarang telah mendapatkan suatu
nuansa baru, dan saya akan terus berusaha bagaimana saya dapat membantu
rekan saya. Saya tahu bahwa sikap seperti ini akan memakan waktu untuk
meningkatkan semangat memberi, tetapi kebaikan akan terbalaskan pada
waktunya dan akan terus berlipat ganda dalam satu bentuk atau lainnya.
Hari ini, ketika Anda mempertimbangkan untuk 'keluar' kepada orang-orang
di sekitar Anda, akankah Anda juga memanggil namaNya? Hidup Anda akan
diperbaharui!
Terj. bebas: Lea Lesmana
"Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa memberi kebaikan
kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak
diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ibrani 1:31.
Reviews: