Bank Iman
Oleh: Tidak Diketahui
Kiriman: Lesmana, Azallea
"..............dari pada-Nyalah harapanku " (Mazmur 62;6 )
Seorang anak pengusaha nekad masuk sekolah teologi, meskipun oleh orang
tuanya tidak menyetujuinya. Akibatnya, kuliahnya tidak dibiayai. Begitu
berat hidupnya, sehingga untuk membeli sabun mandi-pun ia tidak bisa. Apa
yang ia lakukan? Ia selalu mandi paling akhir dengan harapan mendapatkan
sisa-sisa sabun teman-temannya. Setelah dikumpulkan, sabun itu
diremas-remasnya menjadi gumpalan seperti bola pimpong. Warnanyapun
warna-warni, ada merah muda, putih, hijau, biru dan ungu. Tidak ada
satu-pun yang menjual sabun seperti ini. Ia bisa hidup hemat seperti itu,
namun suatu hari ada masalah besar yang menimpanya, ia harus membayar uang
kuliah dan uang ujian yang cukup besar. Apa yang ia lakukan? Berdoa. Ia
berdoa dengan tekun berhari-hari sampai tiba batas akhir membayar uang
ujian. Pagi itu, ia berangkat kekampusnya dengan perasaan tidak menentu.
Apa-pun terjadi, terjadilah. Kalau ia tidak boleh ikut ujian gara-gara
belum membayar uang kuliah dan uang ujian, ia akan pulang.
Ketika berjalan gontai kekampus, dipintu gerbang tiba-tiba ia diberhentikan
seorang penjual kerupuk yang tidak ia kenal sama sekali. Tiba-tiba penjual
kerupuk itu berkata; "Pak, semalam Tuhan berkata kepada saya untuk
memberikan uang ini kepada bapak." Ketika dihitung, jumlahnya persis dengan
uang kuliah dan uang ujian yang harus ia bayar. Jumlah yang cukup besar,
apalagi bagi seorang penjual kerupuk. Allah menjawab doanya secara ajaib.
Sebagai orang percaya, kita memang memiliki hak istimewa untuk bergantung
kepada-Nya. Hanya kepada-Nya. Jika kita bergantung harap pada manusia, kita
bisa dikecewa-kan. Namun, Allah bisa memakai manusia untuk menolong kita.
Tidak inginkah Anda menerima pertolongan dari seorang penjual kerupuk?
Berdoalah dan Dia akan menjawab doa Anda. Marilah kita menarik segala yang
kita butuhkan dari bank iman yang Dia sediakan!
Reviews: