Besarnya Cinta Pada Suaminya Meruntuhkan Sebagian Dari Tembok Besar Cina
Oleh: Tidak Diketahui
Kiriman: Christine
Saat Kaisar Hsi Huang Ti mendapat cobaan dari Dewi Welas Asih dengan 2
tangkai mawar, yang satu telah mekar dan yang lainnya masih kuncup.
Karena rasa bakti Kaisar Hsi pada istrinya, mawar yang telah mekar
dengan indahnya diberikan pada istrinya, sedangkan yang masih kuncup
dipersembahkan pada ibu suri (ibunya). Disinilah sebenarnya cobaan
dimulai, mawar yang sudah mekar mulai layu dan mulai, dibarengi oleh
layunya kecantikan sang permaisuri, sedangkan mawar kuncup yang
dipersembahkan pada ibu suri mulai mekar diiringi oleh keajaiban sang
ibu
suri juga semakin cantik, bahkan kelihatan lebih muda dari sang
permaisuri.
Rupanya kecantikan ibu suri pun mengalahkan kecantikan wanita seluruh
negeri Cina, sehingga Kaisar Hsi pun tertarik untuk menikahi ibu suri,
ibu
kandungnya sendiri, namun niat kaisar yang telah mabuk kepayang oleh
kecantikan ibundanya ditentang dengan keras oleh ibu suri, namun kaisar
tidak pernah menyerah dan terus memaksa ibu suri supaya mau menikah
dengannya.
Akhirnya, ibu suri mencari akal untuk mengakhiri niat sang kaisar. Ibu
suri menyanggupi keinginan kaisar Hsi dengan satu syarat, yakni : Kaisar
harus menutup seluruh negeri Cina dari cahaya matahari pada hari pernikahan
mereka.
Karena besarnya keinginan untuk menikahi ibu suri, kaisar segera
menyanggupi syarat yang diajukan ibu suri, maka dimulailah pembangunan
tembok besar Cina. (Tembok tersebut hanya berupa dinding sedangkan
bagian atapnya belum sempat dibangun).
Seluruh rakyat di negeri Cina dikerahkan untuk bekerja paksa membangun
tembok besar tersebut, maka beribu orang mati saat pembangunan tersebut
sehingga tenaga berkurang dan pembangunan pun berjalan lamban. Kaisar
sangat tertekan dan mendatangkan banyak orang pintar untuk membantunya
menyelesaikan masalah tersebut.
Datanglah seorang peramal pintar yang memberikan pemecahan atas
banyaknya korban yang mati saat pembangunan tersebut, dengan cara mencari
orang bermarga Wan (Hokkian=Ban : puluhan ribu) untuk dijadikan tumbal yang
ditanamkan dilokasi pembanguan.
Pada saat tersebut dalam negeri tersebut hanya ada seorang marga Ban
yang tersisa yang tinggal dibelahan lain Cina, yakni Ban Ki Neng, maka
diperintahkanlah untuk mengundang Ban Ki Neng ke kota raja, Ban Ki Neng yang
tidak tahu akan rencana Kaisar segera datang menghadap dan
berakhirlah Ban Ki Neng sebagai tumbal pembangunan Tembok Besar Cina.
Maka Tembok Besar Cina dalam versi mandarin bernama Wan Li Chang Chen
(Hokkian=Ban Li Teng Shia=Tembok Panjang Puluhan Ribu LI)
Istrinya Ban Kin Neng yang bernama Beng Khiu De, sedang hamil tua saat
ditinggal pergi menunggu bertahun-tahun dan akhirnya tahu kalau suaminya
telah dijadikan tumbal pembangunan tembok besar Cina memutuskan untuk
meninggalkan anaknya pada orang tuanya dan menempuh perjalan jauh untuk
mencari tulang belulang suaminya di kota raja.
Berbagai halangan dijalan dilewati atas perlindungan dewa, maka
sampailah dia di gerbang masuk Tembok Besar yang belum selesai semuanya,
hanya bagian tembok yang sudah selesai sehingga Beng Khiu De tidak bisa
masuk.
Menangislah dia disisi luar Besar Cina sepanjang hari dan sepanjang
malam,dan air matanya terus mengalir membasahi bumi. Langit tergetar oleh
cinta seorang istri pada suaminya, langit bergelegar lantas bumi ikut
bergetar ikut bersimpati pada Beng Khiu De, lalu....tiba tiba bagian tembok
dekat Beng Khiu De pun rubuh rata dengan tanah. Akhirnya diapun dapat
meneruskan niat sucinya untuk mencari tulang sang suami yang dicintainya.
Manusia memang penuh cinta, bahkan pepatah Cina mengatakan Ai Sing Man
Thian Sia (Rasa Cinta Membanjiri Kaki Langit). Namun cinta seorang istri
terhadap suaminya maupun suami terhadap istrinya sungguh suatu karunia yang
mampu menggetarkan langit dan bumi.
Reviews: