Aku Sangat Mencintainya
Oleh: Hanoch, McCarty, Ed.D.
Kiriman: Hatjie
Sumber: Cetivasi
Pendeta sudah hampir selesai membacakan doa pada upacara pemakaman.
Tiba-tiba pria berumur 78 tahun yang istrinya—teman hidupnya selama 50
tahun—meninggal dunia dan baru saja dimakamkan berseru dengan sedih, “Aduh,
aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” Keluh kesahnya itu terasa
mengganggu ketenangan upacara yang berlangsung khusyuk itu. Para
anggota keluarga dan teman-teman yang berdiri di sekeliling nampak kaget
dan kikuk karenanya. Anak-anak pria itu, yang semua sudah dewasa, berusaha
menenangkannya. “Sudahlah, Ayah—kami mengerti. Sudah, tenanglah.” Pria
lansia itu menatap peti mati yang dengan pelan pelan diturunkan ke dalam
liang makam, sementara pendeta mengakhiri doa.
Setelah selesai,
dipersilahkannya sanak keluarga menaburkan tanah ke atas peti mati sebagai
tanda bahwa maut merupakan akhir yag pasti. Hadirin secara bergilir
melakukannya, kecuali pria lansia itu. ”Aduh, aku sangat mencintainya!”
keluhnya dengan suara keras. Ketiga anaknya berusaha lagi menenangkannya,
tetapi ia terus saja berkeluh kesah, ”Aku mencintainya!”
Ketika para pelayat mulai beranjak hendak pergi, pria itu tetap saja
berdiri di tempat semula sambil menatap ke dalam liang. Kini pendeta
menghampirinya, ”Saya tahu bagaimana perasaan Anda, tetapi kini sudah
waktunya pergi. Kita semua harus pergi dari sini dan meneruskan kehidupan
kita.”
”Aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” keluh pria malang itu dengan
sedih. ”Anda tidak mengerti,” ujarnya kepada pendeta. ”Saya pernah sekali
hendak mengucapkannya kepadanya.”
Kelemahan terbesar dari kebanyakkan manusia adalah keseganan untuk
menyatakan pada orang lain betapa mereka menyayangi orang-orang itu sewaktu
mereka masih hidup.
Reviews: