Bandingkan Cinta Anda dengan Cinta-NYA
Oleh: Tidak Diketahui
Eramuslim – Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya,
seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang
dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta
sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum
dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa
kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang
kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai
yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukan.
Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya
meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha
menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang mentari, meski terkadang dikeluhkan
karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan
sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan
seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang
seorang. Sangkuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga
dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata
ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, yang di setiap jengkal marmer
bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja, juga terbangun karena
cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah
tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati
yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta
selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga
seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan
membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna.
Mengajarkan pada kita betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat
dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati
dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur
dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.
Tentang cinta itu sendiri, Rasulullah menegaskan bahwa tidak beriman seseorang
sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya.
Al Ghazali
berkata,”Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari
perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum
cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam
sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja.”
Di satu sisi, Allah Sang Pencinta Sejati menegaskan, jika manusia-manusia tak
lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia
mencintainya dan mereka mencinta-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka berangkat dari
rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita
berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita, Dia melayani
seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita,
seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani kita
seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya
seakan-akan ada Tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari cinta yang Dia berikan?
Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa
melarikan diri. Sehingga kalau kita “dipecat” menjadi makhluk-Nya, kita bisa
pindah kepada Tuhan yang lain. Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya
dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan
siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk
neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita.
Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi,
sekali lagi, bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a’lam bishowaab.
Reviews: