Cerita Cinta dari Seorang Kawan
Oleh: Tidak Diketahui
Tadi malam saya dikunjungi oleh seorang kawan lama. Ia bekerja di sebuah kantor konsultan yang bergerak di bidang konstruksi. Kamipun berbincang panjang lebar mengenai apa saja, maklum walau sama-sama tinggal di Jakarta, hampir tak pernah kami berjumpa.
Sampai pada saat kami berbincang soal keluarga, ia yang belum berkeluarga itupun bercerita panjang lebar soal gadis rekan sekantor yang ditaksirnya. Betapa peliknya cerita kawan tersebut sehingga sayapun tertarik untuk membuat deskripsinya berdasar game theory.
Anggaplah si A adalah kawan saya tersebut dan si B adalah gadis yang ditaksirnya.
Si A sudah menyatakan cintanya ke si B, tetapi respons si B adalah menolaknya. Padahal menurut si A, antara dia dengan si B banyak kecocokan dan sama-sama menikmati kebersamaan mereka berdua. Lalu mengapa si B menolak si A?
Analisisnya sebagai berikut:
Pada satu waktu, Si A menyatakan cinta kepada si B, maka respons si B hanya ada dua, menerima atau menolak. Jika respons si B adalah menolak pada saat itu juga, maka si A tidak akan cerita soal si B. Jika respons si B adalah menerima, maka si A tak perlu cerita kegundahannya.
Si B menolak si A setelah sekian waktu. Dari sekian kemungkinan, maka berdasarkan ceritanya si A, diperoleh urutan respons si B sebagai berikut:
1. Saya menerima cinta A dengan sepenuh hati;
2. Saya berharap, kami berdua pacaran serius menuju jenjang perkawinan;
3. Melihat sikap A yang tulus, maka saya akan membalasnya dengan tulus;
4. Situasi ini akan membahagiakan A;
5. Tetapi sebentar.... kalau saya langsung begitu saja menerima cinta si A, apakah saya justru dianggap murahan?
6. Jika Saya A, saya akan berpikir apakah B akan memberikan cinta yang sebanding?
7. Jika pertanyaannya ke-6 si A jawab iya, apakah si A masih tetap memberikan perhatian yang sama?
8. Si A adalah rekan sekantor, rasanya tak pantas jika kami menjalin cinta;
9. Kalau saya A dan melihat situasi ini -poin 8-, maka saya akan lebih memilih main-main saja!
10. Jadi A sebenarnya tidak mencintai saya dengan tulus;
11. Jadi, lebih baik saya tidak menerimanya;
12. Jika saya menerimapun, hal yang terbaik yang dapat dilakukan adalah berhubungan secara rahasia;
13. Atau lebih baik saya cari orang lain tanpa resiko.
Hehehe... adakah di antara rekan-rekan yang bisa buat persamaannya?