Cerita
· Agama & Rohani (64)
· Cinta (228)
· Humor (19)
· Kasih (61)
· Kristen (330)
· Lain-lain (632)
· Orang Tua (40)
· Peliharaan (2)
· Persahabatan (32)
· Puisi (185)
· Sikap (274)
· Sukses (31)
  Cerita Terbaru
. Kehidupan Yang Berarti
. Seorang Argo Cilik
. Beda Cowok Playboy..
. Cinta Yang Agung
. Golongan Darah
. Inipun Akan Berlalu
. Gabriella Dan Trofi
. Berjalan Dengan Keong
. 90/10
. Memilih
. Kepribadian Fleksibel
. Berpikiran Positif
. Point Of View
. Setiap Orang Ingin.
. Mari Belajar Dari..
. Kepuasan Terbesar..
. Makna Sukses
. Mencapai Potensi..
. Setiap Langkah...
. Jangan Pernah...
. Busuknya Kebencian
. Kelinci Si Penakut
  Pencarian Cerita


Exact Match Search
  About This Site
· Home
· Links
· Kontribusi
· Contact Us
· Copyright Info
· Privacy Statement
  Partners Site
· Afterhours
· Heart 'n Souls
· Palm Gaming World
  Home : Cerita : Sikap
The goal of this site is to touch the heart and restore the soul of those who view this site in your spare time. We hope that this site may comfort the sad, befriend those that are happy, touch the heart and calm the hearts of those that are angry/bitter/upset.

Also to assist in giving wisdom/inspiration to those that work. Enjoy yourself, learn and share wisdom from our collection of inspirational stories, motivational message, inspiring messages, parables, clean jokes, love poems.


Dongeng Kehidupan Mario Capecchi
Oleh: Tidak Diketahui

Bayangkan seorang anak kurus, dekil, dan liar yang biasa Anda lihat berkeliaran di jalanan kota. Ia mengemis, berkelahi, juga mencuri. Percayakah Anda bahwa anak seperti itu kelak bisa menjadi ilmuwan tersohor, peraih berbagai penghargaan internasional Barangkali hampir semua kita akan geleng kepala. Namun, itulah dongeng kehidupan Mario Capecchi yang berkat riset rekayasa genetikanya tahun ini memenangkan penghargaan bergengsi Nobel di bidang kedokteran.

Dilahirkan dari turunan keluarga Amerika makmur, Mario terdampar di jalanan setelah ibunya yang anti-Fasisme ditangkap Gestapo dan dijebloskan ke kamp konsentrasi Dachau saat pecahnya Perang Dunia II. Saat itu ia baru berumur empat tahun. Hampir selalu kelaparan, Mario melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Terakhir, ia terkurung dalam sebuah rumah sakit bersama anak-anak jalanan lain. Mereka ditelanjangi dan tiap hari hanya dijatah secuil kecil roti dan segelas kopi. Saat hari menjelang siang, mereka semua selalu jatuh tak sadarkan diri di ranjang-ranjang sempit yang berimpit-impitan, tanpa seprei dan tanpa selimut.

Mario lolos dari maut saat ibunya datang menjemput. Setengah sakit jiwa, sang ibu membawa anaknya yang berumur 9 tahun kembali ke Amerika. Mario lantas dibesarkan oleh paman dan bibinya dalam lingkungan komunitas Quaker (salah satu kelompok religius yang hidup secara kolektif). Sekalipun belum pernah mencicipi bangku sekolah dan tidak bisa berbahasa Inggris, ia langsung dimasukkan ke kelas tiga SD di sekolah Quaker. Para guru membiarkannya bereksplorasi dengan cat dan mural sebagai sarana berkomunikasi.

Di tingkat SMA, ia merasa para guru memperlakukan murid seolah-olah sudah mahasiswa. Guru berdialog dengan murid. Tidak ada buku teks. Itu membuat belajar jadi terasa menyenangkan. Ia juga menyerap nilai tanggung jawab sosial dari lingkungan Quaker-nya. Ada kesadaran tentang masalah-masalah dunia. Memang tidak pernah diajarkan, tetapi terasa bahwa kita dapat bahkan harus melakukan sesuatu untuk membuat dunia jadi lebih baik.?

Bekal pengetahuan dan nilai-nilai hidup dari sekolah Quaker ditambah pengaruh pribadi pamannya yang berprofesi sebagai fisikawan akhirnya menuntun jalan hidup Mario menjadi ilmuwan. Dalam pekerjaan, ia dikenal sebagai pribadi yang sangat kreatif, profesional, dan terampil bekerja sama dalam tim. Dalam kehidupan pribadi, ia punya keluarga yang harmonis.

Ada kutipan menarik dalam orasi Mario ketika menerima Kyoto Prize tentang hakikat dari pendidikan. Merenungkan masa kecilnya sendiri, ia berpendapat: ?Satu-satunya hal yang perlu kita sediakan bagi semua anak kita adalah cukupnya kesempatan untuk mengejar minat-minat dan mimpi-mimpi mereka. Tingkat pemahaman kita tentang perkembangan manusia terlalu dangkal untuk memprediksi siapa di antara anak-anak itu yang akan menjadi Beethoven, Modigliani, atau Martin Luther King berikutnya.


Reviews:
Copyright © Heart 'n Souls Indonesia, 2001. All Rights Reserved.