Cerita
· Agama & Rohani (64)
· Cinta (228)
· Humor (19)
· Kasih (61)
· Kristen (330)
· Lain-lain (632)
· Orang Tua (40)
· Peliharaan (2)
· Persahabatan (32)
· Puisi (185)
· Sikap (274)
· Sukses (31)
  Cerita Terbaru
. Kehidupan Yang Berarti
. Seorang Argo Cilik
. Beda Cowok Playboy..
. Cinta Yang Agung
. Golongan Darah
. Inipun Akan Berlalu
. Gabriella Dan Trofi
. Berjalan Dengan Keong
. 90/10
. Memilih
. Kepribadian Fleksibel
. Berpikiran Positif
. Point Of View
. Setiap Orang Ingin.
. Mari Belajar Dari..
. Kepuasan Terbesar..
. Makna Sukses
. Mencapai Potensi..
. Setiap Langkah...
. Jangan Pernah...
. Busuknya Kebencian
. Kelinci Si Penakut
  Pencarian Cerita


Exact Match Search
  About This Site
· Home
· Links
· Kontribusi
· Contact Us
· Copyright Info
· Privacy Statement
  Partners Site
· Afterhours
· Heart 'n Souls
· Palm Gaming World
  Home : Cerita : Kasih
The goal of this site is to touch the heart and restore the soul of those who view this site in your spare time. We hope that this site may comfort the sad, befriend those that are happy, touch the heart and calm the hearts of those that are angry/bitter/upset.

Also to assist in giving wisdom/inspiration to those that work. Enjoy yourself, learn and share wisdom from our collection of inspirational stories, motivational message, inspiring messages, parables, clean jokes, love poems.


Sepasang Kasut Sport
Oleh: Tidak Diketahui

Menjadi "sama dan serupa" atau dengan panggilan "cool", trendy dengan remaja lain merupakan keinginan semua remaja. Saya masih ingat bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 70an saya merasakan harus memiliki sepasang kasut sport fesyen yang terbaru yang sedang "in". Persoalannya, bulan lalu saya baru sahaja membeli sepasang kasut sekolah.

Tetapi, kasut sport sekarang sedang menjadi kegilaan anak-anak muda, oleh sebab itu saya berjumpa ayah meminta bantuannya.

"Ayah, Saya perlukan sedikit wang untuk kasut sport", ujar saya satu petang di bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai mekanik.

"Nak" ayah kelihatannya terkejut.

"Kasutmu baru berumur satu bulan, tapi mengapa kini kau perlukan kasut baru?"

"Setiap orang memakai kasut sport yah!" sahut ku.

"Memanglah begitu keadaannya nak, namun untuk ayah mendapatkannya untuk mu amatlah payah" ayah diam seketika.

"Gaji ayah kecil dan sering tidak mencukupi untuk memenuhi keperluan sehari-harian" sambung ayah.

"Ayah, saya akan kelihatan seperti budak bodoh memakai kasut jenis ini " kataku sambil menunjuk kepada sepasang kasut yang sedang saya pakai.

Ayah memandang dalam-dalam ke mataku.

Kemudian dia menjawab, "Begini saja, Kau pakai kasut ini untuk satu hari lagi. Besok, di sekolah, perhatikan semua kasut dari kawan-kawanmu. Bila selesai sekolah jika kau masih berkeyakinan bahawa kasutmu paling buruk jika dibandingkan dengan kawan-kawanmu, ayah akan memotong wang belanja ibumu dan membelikan sepasang kasut sports"

Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh berkeyakinan bahawa hari itu merupakan hari terakhir bagiku memakai kasut yang ketinggalan zaman ini. Saya lakukan seperti apa yang ayah perintahkan, namun tidak saya ceritakan apa yang saya lihat secara teliti.

Kasut coklat, kasut hitam, kasut tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat perhatianku. Pada petang hari, saya akan memiliki perbendaharaan baru walaupun dalam ingatanku betapa banyaknya lagi teman-teman di sekolah yang juga memakai kasut bukan jenis sport, bahkan kasut-kasut rosak, berlobang, menganga dan lain-lain bentuk yang sudah mendekati kepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai kasut sport yang gagah, yang senantiasa membuat pemiliknya kelihatan penuh bergaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.

Setelah sekolah selesai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir yakin bahawa Isnin depan saya juga akan termasuk dalam kelompok yang sedang "in". Setiap kali saya menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai kasut sport idaman saya.

Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya dentingan hentakan besi dari bawah sebuah kereta tua buatan tahun 1956. Udara berbau minyak, namun pada hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang pelanggan sedang menunggu ayah yang sedang bergelut di bawah kereta tua itu.

" Cek " tanya saya kepada pelanggan yang sedang menunggu, " masih lamakah? "

"Entahlah. Kau kan tahu sifat ayahmu. Dia sedang membetulkan transmission, namun bila dia mendapati bahawa adanya bahagian lain yang tidak betul, dia akan menyelesaikannya juga."

Saya bersandar pada kereta tua itu. Apa yang dapat saya lihat hanyalah sepasang kaki ayah yang menjulur keluar dari bawah kereta. Sambil menjentik-jentik lampu belakang kereta, secara tidak sedar saya menatap kaki ayah. Pakaian kerjanya berwarna biru tua, kusam dan kotor terkena minyak, lusuh pula. Kasutnya, berwarna putih tua.... ah .... bukan hitam muda......, dan sungguh-sungguh buruk, sebagaimana mestinya kasut seorang mekanik.

Kasut kirinya sudah tidak bertapak, dan bahagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit tipis, yang dahulu bernama tapak kasut. Di hujungnya, sebaris staples mencengkam kuat kedua belah kulit, mencegah ibu jari kakinya mengintip keluar. Tali rafia menjadi pengikat kasutnya dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut dari cebisan kotak kadbod.

" Sudah pulang nak? " ayah berkata sambil menggelungsur keluar dari bawah kereta.

"Yes sir" kataku.

" Telah kau lakukan seperti apa yang ku perintahkan hari ini?"

"Yes sir"

"Nah, apa jawapanmu ?" Ayah memandangku, seolah-olah tahu apa yang akan saya ucapkan.

"Saya tetap inginkan kasut sport " Saya berkata tegas, dan berusaha seboleh-bolehnya untuk tidak memandang kasut ayah.

"Kalau begitu, ayah harus potong wang belanja ibumu..... kenapa tak pergi dan membelinya sekarang?" lalu ayah mengeluarkan selembar wang sepuluh ringgit.

Saya menerima wang itu dan segera berangkat ke pusat membeli-belah berdekatan dengan bengkel di mana ayah bekerja.

Di cermin pamiran disebuah kedai, saya berhenti untuk melihat apakah kasut sportku masih dipamir. Ternyata masih! Dan harganya sembilan ringgit sembilan puluh lima sen. Namun wang saya tidak akan cukup bila saya harus membeli stokin yang akan dipadankan dengan kasut itu agar kelihatan lebih bergaya. Saya berfikir, untuk lari ke rumah dan meminta bantuan dana dari ibu, sebab tidak mungkin untuk saya kembali kepada ayah dan meminta kekurangannya.

Pada saat itu, saya teringat kepada ayah, kasut tuanya terbayang melintasi kedua mataku. Jelas nampak keburukannya, sisinya yang compang-camping, paku paku yang telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menyepit kertas. Kasut kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim hujan lebat, kasut yang sama dipakainya melintasi jalan-jalan yang banjir, menuju kepada kereta-kereta yang mogok.

Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terfikir olehku, betapa banyaknya benda-benda yang seharusnya diingini ayah, namun tidak pernah dimilikinya, semata-mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan keinginan memiliki kasut sport yang ada di balik kaca pamiran di hadapanku mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Kasut jenis apa yang akan ku pakai saat ini, bila ayahku bersikap seperti saya. Saya masuk ke dalam kedai kasut itu. Sebuah rak besar terpampang megah, penuh berisi kasut sport yang sungguh impressive. Di sebelahnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan "BIG SALE!! 50% DISCOUNT".

Dibawah bingkai itu tergeletak kasut-kasut seperti model kasut ayah, beberapa generasi lebih muda, tentunya. Otakku bermain ping-pong. Mula-mula kasut ayah yang buruk. Dan sekarang kasut baru. Fikiran mengenai menjadi "in" dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan kemudian fikiran mengenai ayah,.... telah mengalahkannya.

Saya mengambil kasut ukuran saiz 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke arah kaunter pembayaran dan membayar harganya sebanyak lima ringgit.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan kasut baru ayah di atas tempat duduknya di dalam kereta. Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan wang lebihan.

" Ayah ingat harganya sembilan ringgit sembilan puluh lima sen " kata ayah.

" Sale " kataku pendek.

Saya mengambil sapu, dan mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima petang, dia memberi tanda bahawa bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.

Ayah mengangkat kotak kasut ketika kami masuk ke dalam keretanya. Ketika dia membuka kotak itu, dia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia memandang kasut itu lama-lama, kemudian menoleh pandangannya kepadaku.

" Ayah ingat kau membeli kasut sport ", katanya, nadanya perlahan.

" Sebetulnya ayah, saya memang berkeinginan memilikinya tetapi .... saya tak sanggup meneruskan niat saya. Bagaimana saya harus menjelaskannya bahawa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan apabila saya menjadi dewasa kelak, saya sesungguhnya ingin menjadi seperti orang sebaik ini, yang Tuhan berikan kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling berpandangan buat seketika.

Tidak ada kata-kata yang perlu dikatakan.

Ayah menghidupkan enjin kereta, dan kami pulang.

Terima kasih Tuhan, kerana engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan bertanggungjawab.............


Reviews:
Copyright © Heart 'n Souls Indonesia, 2001. All Rights Reserved.